Raih Gelar Doktor Lewat Disertasinya Soal Desa Wisata Inilah Kisah Eks Satpam IPB

Perjuangan Hody Santoso untuk menempuh pendidikan patut diacungi jempol.

Pria asal Nganjok, Jawa Timur ini memulai perjuangannya dari nol.

Sekarang, Hudi telah membuat prestasi yang membanggakan.

Pria yang kebetulan menjadi satpam kampus IPB University Bogor ini meraih gelar Ph.

Menariknya, dia menerima gelar PhD dari kampus yang dia “jaga”.

“Saya sudah empat tahun menjadi satpam di IPB. Tepatnya pada saat pembangunan gedung Fakultas Kedokteran Hewan”/2022), kata Hodi usai menjalani kuliah terbuka untuk promosi PhD di IPB University, Bogor, Jawa Barat, Senin (28/28).3).

Hody mengaku tidak pernah menyangka bisa kuliah di perguruan tinggi bergengsi seperti IPB untuk mendapatkan gelar PhD.

“Saya juga punya taksi dalam kampus (IPB). Sejak itu, saya berpikir bahwa jika saya terus seperti ini, hidup saya akan macet, tidak ada yang akan berubah. Alhamdulillah saya punya kesempatan. Mendaftar untuk diploma, melanjutkan S1 di UNS Solo, kemudian melanjutkan master di PhD IPB, kata Hody.

Terkait tesisnya, Hody mengatakan Kabupaten Bogor memiliki potensi wisata desa kerajinan yang besar.

Dengan 42 desa yang mampu menjadi desa wisata dan 25 diantaranya sudah beroperasi sebagai desa wisata.

Hody menjelaskan, pengelolaan desa wisata ini masih jauh dari sempurna, apalagi jika melihat potensi yang dimiliki.

Ia menjelaskan, kepala desa harus bisa mengakses, mengelola, dan memanfaatkan berbagai platform aplikasi media untuk menyampaikan informasi, mempromosikan, dan membangun reputasi desa wisata yang dikelola secara fisik.

Ditambahkannya, “Pengelola desa wisata tidak mampu melakukan kegiatan komunikasi pemasaran, padahal ini merupakan faktor penting bagi perkembangan dan keberlanjutan desa wisata yang dapat. mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk keuntungan yang optimal.” dia berkata.

Hody menjelaskan bahwa social media marketing sangat penting dalam pengembangan pariwisata.

Karena semakin banyak media sosial seperti Facebook, Instagram dan Youtube yang digunakan, semakin populer komunikasi pemasarannya.

Studi Hody menggunakan metode survei terhadap 166 peserta dari 3.320 warga desa wisata di Kabupaten Bogor.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2020 di 4 kecamatan yaitu Bamijahan, Liweliang, Babkan Madang dan Tingulaya.

Tim penasihat tersebut antara lain dr. Inframerah. Amir El-Din Saleh, MS, Prof. dr. Inframerah. H Moses Hobbes, ING, Diplomat DEA, dan Dr. Inframerah. Wahyu Budi Priatna, MSi. Sedangkan tim pengujinya adalah GS. dr. Inframerah. Pudji Muljono, MSi dan Prof. dr. Widodo Muktiu, MCom.

Hodi yang kini menjadi dosen tetap di Sekolah Vokasi IPB ini menjelaskan, untuk mengembangkan desa wisata di Kabupaten Bogor diperlukan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. Terutama dari Pemerintah Daerah di Kabupaten Bogor.

Pemerintah daerah perlu memberikan prioritas kebijakan seperti mengadakan pelatihan komunikasi pemasaran dan penggunaan media digital, serta menciptakan kondisi permodalan untuk meningkatkan kewirausahaan bagi agen pariwisata sehingga desa wisata dapat berkembang.

Ia menyimpulkan, “Selain itu, perwakilan desa wisata di Kabupaten Bogor perlu lebih terbuka dengan aktif mencari informasi di media untuk meningkatkan fasilitas di desa wisata seperti wisata, tanggal menarik atau tempat berfoto untuk menarik wisatawan. “