Inilah Skema Pembayaran Rubel Untuk Pembeli Gas Dari Rusia

Pembeli gas Rusia dari “negara musuh” akan diminta untuk membuka rekening rubel di bank Rusia yang tidak terakreditasi.

Ini adalah rencana yang dikembangkan oleh pemerintah Rusia dan diumumkan pada Kamis (31 Maret 2022). Russia Today mengutip sumber yang mengetahui mekanisme pembayaran baru, mengutip siaran RBC.

“Skema yang diusulkan akan mengharuskan pembeli asing gas Rusia untuk membuka rekening dalam rubel Rusia dengan bank Rusia,” kata sumber pemerintah.

“Pembayaran pembeli ke Gazprom harus dilakukan seluruhnya dalam rubel,” tambah pernyataan itu.

Sebuah sumber yang dekat dengan raksasa minyak dan gas Rusia Gazprom mengkonfirmasi kepada RBC tentang struktur rencana pembayaran baru.

Batas waktu yang ditetapkan oleh pemerintah Rusia untuk mengubah pembayaran gas menjadi rubel adalah 31 Maret 2022.

Putin berbicara dengan Kanselir Schultz

Sehari sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Olaf Schulz membahas masalah tersebut dalam panggilan telepon pada Rabu (30/3/2022) waktu Moskow.

Mereka membahas permintaan Moskow agar Berlin membayar impor gas Rusia dalam rubel, bukan euro atau dolar.

Menurut versi Jerman, Putin telah setuju untuk terus melakukan pembayaran untuk sementara waktu dalam salah satu dari dua mata uang Barat (dolar dan euro).

Tetapi Kremlin kemudian akan mengubahnya menjadi mata uang Rusia. Moskow mengklaim bahwa Putin menjelaskan segalanya kepada Scholz.

Poin utamanya adalah bahwa Rusia menuntut pembayaran dalam rubel karena negara-negara Barat melanggar hukum internasional.

Cadangan devisa bank-bank Rusia dibekukan oleh negara-negara anggota Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat.

Namun, Putin mengatakan perubahan itu tidak akan menciptakan kondisi kontrak yang tidak menguntungkan bagi importir Jerman.

Jerman bergantung pada Rusia untuk lebih dari setengah pasokan gas alamnya dan sepertiga dari impor minyaknya.

Para pemimpin di Berlin kurang antusias tentang sanksi terhadap energi Rusia daripada beberapa rekan Uni Eropa mereka.

Schulz menggambarkan energi Rusia sebagai “kondisi yang diperlukan” untuk kelangsungan hidup ekonomi Jerman. Menteri Ekonomi Robert Harbeck pekan ini mendesak warga untuk mengurangi konsumsi gas dan minyak.

Sementara itu, di Jerman, kantor cabang Jerman dari raksasa energi negara Rusia Gazprom dilaporkan digerebek oleh pejabat Eropa.

Bloomberg melaporkan berita itu, mengutip sumber yang “ingin tetap anonim.”

Pihak berwenang telah menggeledah kantor anak perusahaan Gazprom Jerman, Gazprom Germania and Wengas, yang menyumbang sekitar 20 persen dari pasokan gas alam Jerman, menurut Bloomberg.

Publikasi tersebut mencatat bahwa Eropa telah mengalami krisis energi sejak musim gugur yang lalu, yang menurut para pejabat dimulai ketika Gazprom berhenti memesan pasokan tambahan.

Sementara itu, pasokan gas di gudang Uni Eropa hampir habis. Saat itu, Gazprom dituduh melakukan “penyalahgunaan kekuasaan”.

Pejabat Uni Eropa menuduh bahwa Gazprom sengaja mengurangi pasokan untuk menekan politisi agar mempercepat peluncuran pipa gas Nord Stream 2 buatan Rusia ke Eropa. (/ Berita Sputnik/ xna)