Si Pencuri Penglihatan.Seringkali Muncul Tanpa Gejala, Dokter Mata Yulia Primitasari: Glaukoma

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua setelah katarak. Perbedaannya adalah apakah katarak dapat diobati dengan pembedahan sedangkan glaukoma tidak.

Jika pengobatan tertunda, glaukoma dapat menyebabkan pasien menjadi buta permanen.

Dokter mata Yulia Primitasari, dr. SpM(K), mengatakan glaukoma adalah pencuri penglihatan. Seringkali penyakit ini terjadi tanpa gejala dan tiba-tiba penglihatan hilang.

“Glaukoma adalah kerusakan saraf optik. Kerusakan saraf ini dapat mengakibatkan penyempitan lapang pandang hingga membuat lubang jarum yang sangat kecil dan dapat mengakibatkan kebutaan,” ujar Yulia Primitasari dalam Doctor Education episode Doctor TV.

Faktor risiko glaukoma termasuk peningkatan tekanan intraokular. Ketika tekanan mata normal antara 10 dan 21 mmH20, dapat mencapai 30 mmH20 pada pasien dengan glaukoma.

Peningkatan tekanan ini biasanya tidak langsung terjadi. Tapi butuh waktu bertahun-tahun.

“Inilah sebabnya pasien sering tidak merasakan gejala. Dan karena terlambat terdeteksi, biasanya pupil mata sudah rusak, semakin mempersempit bidang visual,” katanya.

Diagnosis dini penting untuk mencegah kehilangan penglihatan. Dengan mempersempit tampilan ini dari tepi. Seringkali tidak terasa seperti itu.

Dimulai dari tepi lalu menyempit dan membentuk kotak observasi atau pandangan seperti koridor, yang lambat laun mengurangi kemampuan melihat.

“Jadi, kalau bidang pandang semakin menyempit, jarak pandang berkurang, tidak bisa terang lagi. Padahal sudah ada tindakan,” jelasnya.

tipi di glaucoma

Glaukoma dibagi menjadi dua jenis: kronis dan akut. Glaukoma kronis biasanya asimtomatik dan seringkali tidak spesifik. Hanya rasa lelah atau tidak nyaman yang muncul di mata.

“Tentu saja, penglihatan kabur bagi orang tua umumnya dianggap normal ketika orang berusia di atas 50 tahun. Oleh karena itu, mereka ragu-ragu untuk datang ke pemeriksaan sampai mereka melihat mata kabur yang parah,” katanya.

Lebih lanjut ia juga menyampaikan bahwa yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi tersebut adalah dengan melakukan deteksi dini. Terutama bagi orang-orang dengan faktor risiko. Antara lain, orang yang pernah menderita glaukoma atau tingkat negatif yang tinggi dalam keluarganya.

“Orang yang menggunakan obat kortikosteroid dan mengonsumsi obat kortikosteroid untuk penyakit sistemik seperti diabetes, gagal ginjal kronis dan hipertensi juga rentan terkena penyakit ini,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Yulia, pasien glaukoma akut dengan jenis glaukoma ini mengalami peningkatan tekanan mata secara tiba-tiba. Dari rata-rata normal 20mmH20 hingga 50mmH20.

“Akan sangat menyakitkan. Karena itu, jika pasien mengalami sakit mata yang parah disertai sakit kepala, mual dan muntah, segera periksakan ke dokter spesialis mata,” tambah dr Yulia.

Selain itu, beberapa gejala glaukoma akut termasuk penurunan penglihatan yang drastis. Jadi mata merah sering didahului oleh penglihatan lingkaran atau cekungan di sekitar sumber cahaya.

“Rekomendasi langsung ini agar dokter mengembalikan tekanan di matanya kembali normal. Setelah menurunkan. Kemudian cari penyebab kejang pupil. Apakah mungkin untuk melakukan laser primer atau operasi. Kalau sekunder, dicari penyebabnya,” jelasnya.

Lakukan diagnosis dini

Diagnosis atau skrining dini dapat menyelamatkan penglihatan. Setelah glaukoma dikenali dan obat diterima, pasien juga harus disiplin dalam meminum obat. Hal ini karena kepatuhan minum obat ini berdampak besar pada efektivitas pengobatan glaukoma.

“Pesan kami adalah melakukan pemeriksaan mata rutin setiap 2-3 tahun sekali. Apalagi jika Anda berusia di atas 40 tahun. Apalagi jika Anda berisiko terkena penyakit yang mempengaruhi kesehatan mata”, pesan dr Yulia.