Kasus Ibu Aniaya Anak Di Brebes, Menteri PPPA Pastikan Korban Dapatkan Pendampingan 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Pushyoga mengungkapkan keprihatinan mendalam atas pembunuhan ibunya terhadap anaknya di Brebs, Jawa Tengah.

Dalam kasus ini, satu anak meninggal dan dua orang luka-luka dan luka berat.

Dalam keterangan yang dikeluarkan Menteri Bintan pada Senin, 21 Maret 2022, tim SAPA KamenPPA langsung berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengelolaan Kependudukan (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah dan SPT. PPA.

“Kami akan terus memantau dan menindaklanjuti kasus yang memprihatinkan ini, memastikan para korban mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan dan memantau proses hukumnya,” kata Bintan dalam keterangannya, Selasa (22 Maret 2022). ..

Bintan mendesak jajarannya untuk segera merespon dan memuji kantor P3KB Kabupaten Brebs yang terus berkoordinasi dengan Kesbunporinmas untuk informasi dan kronologisnya.

“Saat ini DP3KB berada di rumah sakit bersama anak-anak korban. Saya berterima kasih kepada pemerintah Brebs atas respon yang cepat untuk membayar korban,” katanya.

Dia terkadang mengatakan bahwa kasus ini seharusnya tidak menjadi pelajaran bagi kita.

Ia mengatakan peran masyarakat dalam melindungi korban sangat penting.

“Pelaku diketahui mengalami depresi karena kendala keuangan, yang mempengaruhi tingkat stres yang pada akhirnya dilepaskan ke anak-anak korban,” kata Bintan.

“Peringatan masyarakat dalam hal ini adalah contoh yang baik dari tanggung jawab bersama untuk melindungi perempuan dan anak. Oleh karena itu, jika menemukan atau mendengar tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak, warga akan segera bertindak dan melindungi mereka. Harus.” Bintang.

Dengan pahit, Mr Bintan mengatakan hukum perlu ditegakkan, bahkan jika ibu kandung dan korban kriminal terbukti secara hukum adalah anak-anak mereka.

Saat ini, seorang penjahat, KU (40), telah diselamatkan oleh polisi dan dua anaknya yang sakit parah dirawat di rumah sakit.

“Kasus ini harus diselesaikan dengan proses peradilan sosiologis, yang lebih memilih untuk memahami situasi di lapangan untuk mengetahui fakta di balik mengapa ini terjadi,” kata Menteri Bintan.

Selain itu, telah diidentifikasi fakta-fakta yang ada untuk mengidentifikasi pemecah masalah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sebelumnya, tiga anak, yakni AR (7), KS (10) dan EM (5), mengalami kekerasan fisik di Brebs, Jawa Tengah.

Kekerasan itu disebut-sebut terjadi di kediamannya di Brebs, Tonjan, dan Sokawella, Jawa Tengah.